RETAS.News, Makassar – Penataan kawasan di Kecamatan Bontoala berjalan tanpa riak. Puluhan pedagang kaki lima (PKL) di sepanjang Jalan Ujung Tinumbu membongkar lapak secara mandiri.
Pembongkaran berlangsung sejak Jumat malam hingga Sabtu dini hari. Lokasi membentang dari belakang kawasan Pertamina, Jalan Lamuru, hingga sekitar SMK Negeri 4 Makassar. Pedagang mengemas barang sendiri. Tidak terlihat penolakan. Tidak ada gesekan.
Sikap pedagang cenderung tenang. Tidak terpengaruh isu dari luar. Keputusan bongkar muncul dari kesadaran sendiri. Dukungan terhadap penataan kawasan menjadi alasan utama.
Camat Bontoala, Pataullah, menyebut langkah ini hasil pendekatan persuasif dan humanis.
“Sejak Jumat malam mereka sudah mulai bongkar sendiri. Insya Allah rampung hingga Selasa,” ujarnya, Sabtu (18/4/2026).
Aktivitas jual beli di lokasi tersebut telah berlangsung sekitar 30 tahun. Lapak berdiri di atas fasilitas umum dan fasilitas sosial. Kondisi ini memicu gangguan fungsi trotoar dan drainase.
Dari sekitar 60 lapak, hanya 40 yang aktif. Sebagian telah berdiri puluhan tahun. Sebagian lain tergolong baru.
Isu penolakan sempat beredar. Fakta lapangan menunjukkan sebaliknya. Pedagang memilih kooperatif. Pembongkaran dilakukan mandiri.
“Tidak ada penolakan. Mereka sendiri yang bongkar. Sebagian besar hampir selesai,” tegasnya.
Penataan ini menjadi contoh pendekatan tanpa konflik. Komunikasi berjalan efektif. Kesadaran kolektif tumbuh.
Pemerintah Kota Makassar tetap menyiapkan solusi penataan lanjutan. Aktivitas ekonomi tetap berjalan. Fungsi ruang publik kembali normal.
Penertiban dilakukan bertahap. Mekanisme dimulai dari Surat Peringatan (SP) 1, SP 2, hingga tindakan lanjutan. Pada lokasi ini, pedagang memilih patuh.
“Kami kedepankan pendekatan persuasif. Pedagang taat aturan,” tutupnya. (*)
Comment