Nilai Kekristenan di Dalam Marhaenisme

Istimewa : Adam Jauri

RETAS.News, Mamuju – Nilai kekristenan dan marhaenisme memiliki kesamaan fundamental dalam lingkup aksiologis terutama pada kepedulian terhadap kaum tertindas, penegakan keadilan sosial, penghargaan terhadap martabat manusia, lingkungan dan bangsa

Marhaenisme merupakan suatu teori sekaligus menjadi ideologi perjuangan yang menentang adanya penindasan manusia atas manusia serta penindasan bangsa atas bangsa.

Model paling umum dari praktik buruk tersebut ada pada penindasan sistem, baik sistem pemerintahan, sistem ekonomi, sistem pendidikan, dan lain sebagainya.

Ideologi Marhaenisme di cetuskan oleh pertama kali oleh Bung Karno pada tahun 1920-an, bahkan menjadi motor perjuangan Partai Nasional Indonesia (PNI) serta Partai Indonesia (Partindo).

Tujuan dari dikembangkannya ideologi Marhaenisme adalah mengangkat derajat hidup dari kaum Marhaen. Kaum Marhaen sendiri adalah yang memiliki kemampuan dan alat produksi sendiri namun masih ada golongan di atas mereka yang menindas. Kaum Marhaen sendiri juga meliputi seluruh golongan rakyat kecil yang tertindas.

Umat Kristen terpanggil untuk menjadi “terang” dan “garam” di dunia (Matius 5:13-16) yang berarti terlibat aktif dalam menghadapi tantangan sosial dan moral. Hal ini termasuk menyikapi isu-isu seperti hak gender, pluralisme agama, dan kelestarian lingkungan, serta memperjuangkan perdamaian dan keadilan sosial

Iman kristen pun mengajarkan prinsip ‘Kasih’ juga memperkenalkan gagasan radikal bahwa semua manusia, tanpa memandang status sosial, gender, atau etnis, diciptakan setara di mata Tuhan. Ini bertentangan dengan norma masyarakat kuno yang dan menjadi dasar bagi gerakan hak asasi manusia di kemudian hari.

Beberapa poin yang sama antara iman kristen dengan ideologi marhaenisme

Ketuhanan yang Maha Esa

Kekristenan: Iman Kristen didasarkan pada kepercayaan monoteistik kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Marhaenisme: Meskipun fokusnya sosio-politik-ekonomi, marhaenisme juga mencakup prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai salah satu asas perjuangannya.

Fokus pada Kesejahteraan Kaum Kecil/Melarat

Marhaenisme: Ideologi ini lahir dari keprihatinan Soekarno terhadap nasib petani miskin bernama Marhaen. Tujuannya adalah memperjuangkan hak-hak dan menyelamatkan kehidupan kaum Marhaen (rakyat jelata, petani, buruh, dan kaum melarat lainnya) dari penindasan kapitalisme dan imperialisme, dan lain sebagainya menuju masyarakat yang adil dan makmur.

Kekristenan: Ajaran Kristen, yang berakar pada kasih (agape), menekankan pada belas kasihan, kemurahan hati, dan kepedulian mendalam terhadap orang miskin, janda, yatim piatu, dan mereka yang terpinggirkan (Mat. 25:31-46). Banyak ajaran Yesus Kristus yang secara eksplisit membela dan memprioritaskan kaum yang

Penegakan Keadilan Sosial

Marhaenisme: Salah satu prinsip utama marhaenisme adalah sosio-demokrasi, yang berjuang untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat, menentang segala bentuk eksploitasi.

Kekristenan: Keadilan (dikaiosune) merupakan nilai moral yang fundamental dalam Alkitab. Umat Kristen didorong untuk mencari keadilan, membela hak orang yang tertindas, dan menentang struktur sosial yang tidak adil (Yes. 1:17; Am. 5:24).

Penghargaan terhadap Martabat Manusia

Marhaenisme: Perjuangan marhaenisme didasarkan pada pengakuan bahwa setiap rakyat jelata Indonesia, tanpa memandang status ekonomi, memiliki martabat yang sama dan berhak atas kehidupan yang layak dan bebas dari penindasan.

Kekristenan: Keyakinan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Imago Dei) memberikan landasan bagi penghargaan universal terhadap martabat setiap individu. Hal ini menuntut perlakuan yang setara, adil, dan penuh kasih terhadap semua orang.

Semangat Solidaritas dan Persaudaraan

Marhaenisme: Ideologi ini memupuk semangat sosio-nasionalisme, yaitu rasa kebangsaan yang didasarkan pada nasib dan kepentingan bersama, mendorong persatuan dan kerja sama untuk mencapai tujuan bersama.

Kekristenan: Konsep “persekutuan” (koinonia) dan ajaran untuk mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri (Mrk. 12:31) mendorong umat Kristen untuk membangun solidaritas, hidup berdampingan secara damai, dan saling mendukung dalam komunitas masyarakat yang majemuk. 

Dapat di simpulkan bahwa nilai kekristenan dan marhaenisme memiliki satu tarikan nafas dan denyut nadi yang sama. Sehingga atas dasar keselarasan itulah yang dapat menjadi alasan yang kuat khususnya bagi umat kristen untuk bergerak secara progresif dan revolusioner untuk memperjuangkan kaum marhaen.

Penulis : Adam Jauri

Comment