Ramadhan dan Jalan Panjang Mengendalikan Diri

Istimewa: Muhammad Fadhil, Pendamping SDM PKH Kementerian Sosial Republik Indonesia.

RETAS.News, Makassar – Beberapa waktu terakhir, dunia kembali menyaksikan berbagai gejolak. Ketegangan, konflik, dan seruan perjuangan kembali terdengar dari berbagai penjuru dunia Islam.

Kata jihad kembali menjadi perbincangan global, yang sering kali dipahami dalam konteks perjuangan besar yang menuntut pengorbanan harta, tenaga, bahkan nyawa.

Namun pada saat yang sama, umat Islam di seluruh dunia juga sedang memasuki bulan suci Ramadhan. Sebuah bulan yang secara sunyi menghadirkan medan jihad yang tidak kalah berat, jihad melawan diri sendiri.

Sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, manusia menahan lapar, menahan dahaga, serta menahan berbagai keinginan diri. Padahal makanan tersedia, air minum ada di depan mata, dan tidak ada yang melarang kita untuk mengonsumsinya. Namun kita tetap menahan diri.

Di situlah letak pelajaran besar dari puasa Ramadhan. Ia mengajarkan manusia tentang perjuangan dan pengorbanan, tentang bagaimana seseorang rela meninggalkan sesuatu yang sebenarnya ia sukai demi mencapai tujuan yang lebih besar.

Dalam Islam, perjuangan seperti ini dikenal dengan istilah jihad, yaitu bersungguh-sungguh dalam berjuang di jalan Allah. Jihad tidak selalu dimaknai sebagai perjuangan fisik, tetapi juga perjuangan melawan hawa nafsu dan keinginan diri sendiri.

Rasulullah SAW menyebut bahwa salah satu jihad terbesar adalah jihad melawan diri sendiri.

Puasa Ramadhan menjadi bentuk nyata dari jihad tersebut. Selama sebulan penuh, manusia dilatih untuk menahan diri dari berbagai kenikmatan dunia yang sebenarnya halal baginya.

Mengapa kita melakukan itu?

Karena kita percaya bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, sedangkan kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal.

Allah SWT berfirman: “Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang sementara, sedangkan negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya.” (QS. Al-Ankabut: 64)

Ayat ini mengingatkan bahwa kenikmatan dunia sering kali bersifat singkat. Namun manusia kerap terlalu sibuk mengejarnya hingga lupa mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang abadi.

Ramadhan hadir untuk mengingatkan manusia tentang prioritas hidup.

Jika untuk menjalankan ibadah puasa saja kita rela menahan lapar dan dahaga selama berjam-jam, maka sesungguhnya kita juga sedang belajar untuk meninggalkan berbagai kenikmatan dunia yang tidak selalu membawa kebaikan bagi kehidupan kita.

Dalam sejarah Islam, para sahabat Nabi menunjukkan pengorbanan yang jauh lebih besar. Mereka rela meninggalkan harta, kampung halaman, bahkan mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan iman dan kebenaran.

Mereka memahami bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara, sedangkan kehidupan akhirat adalah tujuan akhir yang sesungguhnya.

Dalam kehidupan hari ini, bentuk perjuangan itu mungkin berbeda. Kita mungkin tidak berada di medan perang, tetapi tetap menghadapi berbagai perjuangan dalam kehidupan sehari-hari, melawan kemalasan, menahan keinginan yang berlebihan, menjaga kejujuran di tengah godaan, serta bekerja keras demi kehidupan yang lebih baik.

Semua itu merupakan bentuk jihad dalam kehidupan modern.

Ramadhan melatih manusia untuk memiliki ketahanan dalam menghadapi perjuangan tersebut. Ia melatih kesabaran, disiplin, dan kemampuan mengendalikan diri.

Ibarat seorang pelari yang mengikuti lomba jarak jauh, ia tidak berhenti hanya karena merasa lelah di tengah perjalanan. Ia terus melangkah karena mengetahui ada garis akhir yang ingin dicapai.

Demikian pula dengan kehidupan manusia. Kita mungkin harus melepas berbagai kenikmatan dunia yang bersifat sementara. Kita mungkin harus mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kesempatan untuk menikmati berbagai hal yang tampak menyenangkan.

Namun semua pengorbanan itu dilakukan demi tujuan yang jauh lebih besar: mendapatkan ridha Allah dan kebahagiaan abadi di akhirat.

Ramadhan juga mengajarkan manusia untuk menata kembali arah kehidupannya. Kita belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan, antara kesenangan sesaat dan kebahagiaan yang hakiki.

Dalam berbagai pengalaman pendampingan sosial, sering terlihat bahwa perubahan kehidupan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kondisi ekonomi, tetapi juga oleh kekuatan mental serta kedisiplinan dalam mengatur hidup.

Keluarga yang mampu mengendalikan keinginan, mengatur kebutuhan, dan fokus pada tujuan yang lebih besar biasanya memiliki peluang lebih besar untuk keluar dari berbagai kesulitan hidup.

Nilai inilah yang sebenarnya sedang diajarkan oleh Ramadhan.

Puasa bukan hanya ibadah yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya, tetapi juga membentuk karakter manusia agar lebih kuat menghadapi kehidupan.

Namun semua pelajaran itu hanya akan bermakna jika nilai-nilai Ramadhan benar-benar dibawa dalam kehidupan setelah bulan suci ini berlalu. Jika tidak, puasa hanya akan menjadi rutinitas tahunan yang tidak membawa perubahan berarti.

Rasulullah SAW pernah mengingatkan:

“Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar dan dahaga.”
(HR. Ahmad)

Karena itu, Ramadhan seharusnya menjadi momentum bagi setiap manusia untuk memperkuat jihad melawan dirinya sendiri, jihad untuk menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih disiplin, lebih peduli kepada sesama, serta lebih fokus pada tujuan hidup yang sebenarnya.

Pada akhirnya, Ramadhan mengajarkan bahwa kemenangan terbesar dalam hidup bukanlah ketika manusia berhasil mengalahkan orang lain, melainkan ketika ia mampu mengalahkan hawa nafsunya sendiri.

Dari sanalah perjalanan menuju kesejahteraan di dunia serta kebahagiaan abadi di akhirat dimulai.(*)

Penulis: Muhammad Fadhil.

Comment