RETAS.News, Makassar – Di banyak kota, pembangunan kerap diukur dari seberapa cepat gedung berdiri dan seberapa besar investasi dicatat. Namun di Makassar, tumbuh ikhtiar lain yang berjalan lebih perlahan dan kerap luput dari sorotan, memajukan manusia kreatif beserta jejaringnya. Ia tidak selalu tampak gemerlap, tetapi berdenyut dalam keseharian komunitas, di ruang diskusi, kelas progresif, hingga percakapan terbuka tentang masa depan kota.
Ekonomi kreatif dalam konteks ini tidak diposisikan sebagai jawaban instan atas seluruh persoalan. Ia dipahami sebagai proses panjang yang menuntut kesabaran, kepercayaan, serta ruang aman untuk mencoba dan gagal. Di titik inilah ekosistem menjadi penting. Bukan semata tentang siapa yang paling menonjol, melainkan bagaimana mereka yang rentan tetap memiliki akses untuk belajar, berkembang, dan melangkah maju.
Makassar Creative Hub lahir dari kesadaran bahwa kota tidak dapat bertumpu pada talenta yang berjalan sendiri-sendiri. Diperlukan ruang temu agar ide saling berkelindan, kolaborasi bertumbuh, dan kegagalan dapat ditelaah bersama. Ia hadir dengan kerendahan hati, menyadari keterbatasan, tetapi tetap membuka pintu selebar mungkin bagi warga yang ingin bergerak.
Pelaku industri kreatif di Makassar pun perlu dirawat, bukan sekadar dikenali dan didata. Banyak bakat bekerja dalam senyap tanpa panggung dan jejaring memadai. Melalui pendekatan bertahap berbasis proses, Makassar Creative Hub berupaya memastikan talenta tidak hanya lahir, tetapi juga memiliki jalan untuk bertahan dan beradaptasi.
Tulisan ini memandang Makassar Creative Hub bukan sebagai program yang telah sempurna, melainkan sebagai perjalanan yang terus berlangsung, sebuah ikhtiar kolektif yang mungkin belum stabil, tetapi dijalani dengan optimisme bahwa kota akan tumbuh ketika manusianya diberi ruang dan peluang.
Makassar Creative Hub sebagai Ruang Fisik
Di tengah denyut Kota Makassar, Makassar Creative Hub memanfaatkan aset pemerintah yang sebelumnya kurang optimal, lalu menghidupkannya sebagai ruang bersama. Bukan hanya ruang fisik, tetapi ruang aman untuk belajar, bertemu, bereksperimen, dan bertumbuh.
Diresmikan pada 21 Juni 2025 sebagai program prioritas Pemerintah Kota Makassar, Makassar Creative Hub menempatkan diri sebagai simpul ekosistem, bukan menara gading kreativitas. Ia terbuka bagi komunitas, akademisi, pelaku usaha, media, hingga investor dalam kerangka kolaboratif hexahelix.
Secara fisik, Makassar Creative Hub Losari menyediakan amfiteater berkapasitas 80–100 orang, co-working space, ruang kelas, studio konten, galeri seni, collective store bagi jenama lokal, serta kedai kopi sebagai ruang temu informal. Seluruh fasilitas dapat diakses gratis melalui mekanisme peminjaman yang dipermudah. Sepanjang 2025, ruang-ruang ini hampir setiap hari terisi, mulai dari workshop, pertunjukan, seminar, produksi karya, rapat, hingga siaran podcast dan live streaming.
Data aktivitas 2025 yang dirilis Dinas Pariwisata Kota Makassar menunjukkan 48,8 persen pengguna berasal dari komunitas anak muda, disusul lembaga pendidikan dan institusi lain. Kegiatan didominasi workshop (26,2 persen), podcast (16,5 persen), dan talkshow (11,3 persen). Angka-angka ini mencerminkan kebutuhan akan ruang belajar yang terjangkau dan relevan. Makassar Creative Hub berupaya menjawab kebutuhan tersebut sambil terus membenahi tata kelola, operasional, dan fasilitas secara bertahap.
Namun, keterbukaan ruang dan tingginya aktivitas tidak otomatis menjamin keterjangkauan bagi semua. Tantangan elitisasi dapat muncul secara halus ketika ruang terbuka lebih mudah diakses oleh mereka yang telah memiliki modal kultural dan jejaring.
Tidak semua warga berada dalam posisi setara untuk memanfaatkan fasilitas ini. Perbedaan latar sosial, akses informasi, waktu, hingga ego sektoral memengaruhi siapa yang tampil dan siapa yang tetap bekerja dalam senyap. Inklusivitas karenanya bukan sekadar membuka pintu, melainkan upaya aktif menjangkau dan mendampingi mereka yang berada di luar lingkar ekosistem.
Talenta Kota: Denyut Baru Industri Kreatif
Hakikatnya, Makassar Creative Hub lebih dari sekadar ruang; ia adalah ekosistem yang mencakup sarana, prasarana, dan program pemajuan ekonomi kreatif. Salah satunya Talenta Kota, program jangka panjang untuk merawat dan memutar sirkulasi bakat kreatif Makassar, dari pemetaan, penguatan kapasitas, inkubasi, hingga akselerasi nasional dan internasional.
Pendekatannya bertahap. Talenta dipetakan dan diseleksi berjenjang pada subsektor Film dan Pertunjukan, Seni Rupa dan Kriya, serta Literasi dan Penerbitan. Tahap awal melibatkan lebih dari 125 talenta dalam kelas terpadu berbasis proses. Dari jumlah tersebut, 20 orang masuk tahap inkubasi produksi karya, dan tiga orang melaju ke tahap pengorbitan dengan pendampingan intensif.
Talenta Kota mendorong presentasi karya dan perluasan jejaring di tingkat regional, nasional, hingga internasional. Sepanjang 2026, sejumlah talenta dijadwalkan mengikuti program Next Level Kedutaan Besar Amerika Serikat, Busan International Film Festival, Angkor Photo and Workshop Festival di Kamboja, Australian Performing Arts Market di Perth, serta berbagai residensi lintas sektor di kota-kota besar Indonesia. Aktivasi ini menandai keseriusan mendorong proses belajar, pitching, pertukaran budaya, sekaligus membuka akses pasar yang sebelumnya sulit dijangkau.
Ekosistem diperkuat jejaring kolaborator, komunitas lintas daerah, kedutaan besar, lembaga pendidikan, festival nasional, hingga residensi internasional. Talenta Kota berpijak pada prinsip collective caring ecosystem: kolaborasi, berbagi, dan saling merawat sebagai pilar. Keberhasilan tidak semata diukur dari jumlah peserta atau festival, tetapi dari dampak yang kerap sunyi, peningkatan kompetensi, lahirnya karya siap tampil, terbentuknya jejaring luas, hingga peluang kerja baru, meski masih terbatas.
Meski demikian, pemajuan talenta tidak selalu sejalan dengan keberlanjutan ekonomi pelakunya. Proses belajar dan produksi karya bisa berjalan baik secara kultural, tetapi belum tentu berujung pada pekerjaan stabil dan berjangka panjang. Risiko romantisasi proses menjadi tantangan, ketika berkarya dianggap cukup, sementara kebutuhan profesional belum sepenuhnya terjawab.
Sebagai inisiatif kebijakan publik, Makassar Creative Hub juga perlu mengantisipasi ketergantungan pada figur dan momentum politik. Keberlanjutan tidak boleh bergantung pada semangat individu atau siklus tahunan, melainkan dibangun sebagai sistem yang mampu bertahan, beradaptasi, dan relevan di tengah perubahan arah kebijakan.
Dalam segala keterbatasannya, Talenta Kota berupaya menjadi denyut baru yang menjaga aliran industri kreatif tetap bergerak, pelan, terukur, dan berkelanjutan.
Kepercayaan Milik Publik
Pada akhirnya, Makassar Creative Hub bukan semata gedung atau program. Ia adalah kepercayaan bahwa kota ini memiliki orang-orang yang bersedia berbagi ruang, waktu, dan pengetahuan demi masa depan bersama.
Makassar Creative Hub tidak berdiri di atas, melainkan berjalan di tengah, mendengarkan kebutuhan komunitas, membuka dialog, menerima kritik sebagai bagian dari proses belajar. Prinsip inklusivitas, keberlanjutan, aksesibilitas, dan dampak sosial menjadi pegangan, meski penerapannya terus disempurnakan dari hari ke hari.
Masih banyak pekerjaan rumah: memperkuat aktivasi lintas sektor, meningkatkan kompetensi pelaku industri, memastikan keberlanjutan serta pembaruan program setiap tahun. Dari kerja-kerja itulah tumbuh komitmen merawat ruang ini sebagai milik bersama, ruang publik yang hidup karena digunakan, dikritik, dan dirawat oleh warganya sendiri.(*)
Penulis : Imam Al Ghazali (Pegiat dan Pelaku Ekonomi Kreatif)
Comment