MBG Rp19,5 Triliun dalam Sebulan, Efek Berganda ke Ekonomi Makin Nyata

Sumber Foto : Antara, Sejumlah siswa Sekolah Dasar (SD) menyantap makanan saat pelaksanaan program dapur masuk sekolah di SD Negeri 205, Kertapati, Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (6/10/2023).

RETAS.News, Makassar — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) langsung tancap gas di awal 2026. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, melaporkan realisasi anggaran MBG pada Januari 2026 mencapai Rp19,5 triliun.

Angka tersebut bukan hanya tinggi, tapi melampaui capaian bulanan tertinggi sepanjang 2025 yang berada di Rp13,9 triliun pada November lalu.

Jika pada November 2025 program ini menjangkau 43,8 juta penerima manfaat, kini pada Januari 2026 jumlahnya melonjak menjadi 60,7 juta penerima.

Operasionalnya juga ditopang sekitar 22.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah.

Dengan tren tersebut, MBG dinilai berada di jalur yang tepat untuk menyerap penuh anggaran fiskal 2026 yang mencapai Rp330 triliun.

Efek Domino ke Ekonomi.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Andreas Saragih, menilai percepatan belanja MBG berpotensi menciptakan efek berganda (multiplier effect) ke berbagai sektor.

Menurutnya, dampaknya tak hanya pada penciptaan lapangan kerja yang kini sudah menembus satu juta tenaga kerja, tetapi juga berpotensi mendorong konsumsi rumah tangga.

Sektor telekomunikasi disebut bisa ikut terdongkrak, termasuk emiten seperti Telkom Indonesia (TLKM), Indosat Ooredoo Hutchison (ISAT), dan XL Axiata (EXCL).

Tak berhenti di sana, sektor consumer goods harga terjangkau seperti Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP) dan Mayora Indah (MYOR), ritel fesyen seperti Matahari Department Store (LPPF) dan Ramayana Lestari Sentosa (RALS), hingga emiten rokok seperti Wismilak Inti Makmur (WIIM) diperkirakan ikut merasakan limpahan efeknya.

Andreas bahkan menghitung, jika hanya 1% dari belanja yang sebelumnya kurang tepat sasaran beralih menjadi konsumsi tambahan, maka potensi perputaran uang baru bisa menembus Rp2 triliun per tahun.

Imbas ke Industri Ayam.
Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Pertanian Republik Indonesia berencana menaikkan kuota impor grand parent stock (GPS) menjadi 800.000 ekor pada 2026, naik dari 580.000 ekor tahun sebelumnya.

Langkah ini untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan daging ayam dari program MBG, sekaligus menjaga stabilitas harga day old chick (DOC) dan broiler.

Namun, ada catatan penting. Kenaikan impor GPS berisiko memicu kelebihan pasokan ayam pada 2028. Jika tak terkelola, situasi ini bisa berujung pada pemusnahan massal seperti yang pernah terjadi pada 2023.

Sebagai mitigasi, pelaku industri diperkirakan akan memperkuat lini produk olahan guna menyerap potensi surplus.

Harga DOC Naik, Broiler Turun.
Data Januari 2026 menunjukkan harga DOC di Jawa Barat naik menjadi Rp7.055 per ekor, tumbuh 0,5% secara bulanan dan melonjak 22,7% secara tahunan.

Sebaliknya, harga ayam broiler justru turun ke Rp19.489 per kilogram, melemah 14,6% secara bulanan.

Menurut Andreas, ketahanan harga DOC dipicu tingginya harga broiler pada Desember 2025 yang sempat menyentuh Rp22.814 per kilogram, ditambah faktor musiman menjelang Ramadan.

Sementara penurunan harga broiler Januari dinilai sebagai normalisasi sehat akibat peningkatan pasokan.

Mirae Asset tetap mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor poultry, termasuk saham CPIN dengan target Rp6.826 dan JPFA dengan target Rp3.750.

Meski demikian, sejumlah risiko tetap perlu diwaspadai, mulai dari potensi penurunan harga DOC dan broiler di bawah ekspektasi, kenaikan biaya input, hingga dampak MBG yang tak sebesar proyeksi.(*)

Comment