RETAS.News, Makassar – “Tak mengapa keadaan memberat, kalau buktinya membuatmu kuat.” Kalimat ini terdengar lain ketika dibaca dalam kebatinan Indonesia hari-hari ini. Ia tak lagi berdiri sebagai refleksi personal. Ia menjelma cermin kolektif.
Bangsa ini sedang memikul beban berlapis. Bencana alam hadir di banyak daerah. Luka sosial belum sepenuhnya sembuh. Kegamangan masa depan terasa kian nyata.
Tanah longsor, banjir, kebakaran hutan, gempa, angin ekstrem datang silih berganti. Seolah memberi jeda hanya untuk menarik napas, sebelum duka berikutnya menyusul.
Di layar gawai dan halaman media, penderitaan menjadi rutinitas visual. Rumah hanyut. Sawah rusak. Anak-anak mengungsi. Warga bertahan dengan bantuan seadanya. Berat tak lagi metafora. Ia nyata. Basah oleh lumpur. Asin oleh air mata.
Dalam situasi seperti ini, kelelahan mudah menjalar. Pertanyaan pun muncul. Mengapa bencana seakan tak pernah selesai. Apakah ini semata takdir geografis, atau cermin rapuhnya relasi kita dengan alam dan sesama.
Di titik inilah kalimat “tak mengapa keadaan memberat” menuntut pembacaan yang lebih jujur dan dewasa. Berat tak otomatis melahirkan kekuatan. Ia baru berubah menjadi daya jika diolah menjadi kesadaran.
Bencana seharusnya tak berhenti pada solidaritas sesaat. Ia menuntut keberanian untuk bercermin. Tentang tata ruang yang abai. Tentang eksploitasi alam berlebihan. Tentang kebijakan yang kerap kalah cepat dari kepentingan jangka pendek.
Tanpa refleksi, berat hanya berulang sebagai penderitaan. Bukan pembelajaran.
Dalam perspektif humaniora, bencana adalah pengalaman kebudayaan. Ia menguji bukan hanya infrastruktur, tetapi juga watak bangsa. Pada saat genting, dua wajah Indonesia muncul bersamaan.
Yang saling membantu tanpa bertanya asal-usul. Yang saling menyalahkan tanpa tanggung jawab. Keduanya hidup berdampingan. Bertarung dalam ruang publik dan kebatinan kita.
Namun sejarah mencatat satu hal. Indonesia kerap menemukan kekuatannya justru ketika keadaan memberat. Dari bencana lahir gotong royong tulus. Dari kehilangan tumbuh empati lintas batas.
Warga yang kehilangan rumah masih berbagi nasi. Relawan datang dari jauh dengan ongkos sendiri. Doa dipanjatkan bersama, meski keyakinan berbeda. Di situlah kekuatan bekerja. Bukan dalam pidato. Dalam tindakan kecil. Konsisten.
Tetapi satu hal perlu ditegaskan. Menerima berat bukan berarti berdamai dengan kelalaian. Ketangguhan rakyat tak boleh menjadi alasan untuk mengendurkan tanggung jawab negara.
Kekuatan yang lahir dari penderitaan seharusnya menjadi alarm moral bagi pengambil kebijakan. Bukan selimut nyaman untuk menunda pembenahan.
Keadaan memberat akan membuat bangsa ini kuat hanya jika kekuatan itu diarahkan pada perubahan. Pada keberanian menata ulang relasi dengan alam.
Pada keseriusan membangun sistem mitigasi bencana. Pada keadilan pemulihan, agar yang paling terdampak tak selalu menjadi yang paling dilupakan.
Hari-hari ini Indonesia memang berat. Namun di tengah duka yang menyebar dari satu daerah ke daerah lain, kita diingatkan bahwa kekuatan bangsa tak diukur dari bebasnya ia dari bencana.
Ia diukur dari caranya belajar. Berbenah. Saling menopang ketika bencana datang.
Jika berat ini kelak membuat kita lebih bijak, lebih peduli, lebih bertanggung jawab, maka kalimat itu menemukan maknanya yang paling dalam. Tak mengapa keadaan memberat. Asal kita benar-benar menjadi lebih kuat. Bersama.
Penulis : Mashud Azikin.
Comment